BRIN Sebut 1 Juta Hektare Lahan Pertanian pada Indonesia Terdampak Salinitas, Asin
admin Agustus 24, 2023 ArticleJakarta – Badan Riset dan juga Inovasi Nasional atau BRIN menyebutkan ada sekitar satu jt hektare lahan pertanian di area Indonesia terdampak salinitas (kadar garam dari air laut) yang dimaksud berpotensi menurunkan hasil lalu produktivitas tanaman pertanian secara nasional.
“Sebagian besar padi diproduksi di dalam dataran rendah. Beberapa di tempat antaranya mungkin di tempat daerah salinitas juga luasnya dari laporan lebih banyak dari satu jt hektare lahan yang digunakan terdampak oleh salin,” kata Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Yudhistira Nugraha dalam sebuah dialog virtual yang tersebut dipantau dalam Jakarta, Jumat, 20 Oktober 2023.
Tanah salin adalah tanah yang mana mempunyai kandungan natrium di dalam atas ambang batas kritis atau ambang batas toleransi tanaman. Salah satu daerah yang tersebut paling terdampak intrusi air laut adalah wilayah pantai utara di tempat Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Kendal lalu Kabupaten Pemalang.
Yudhistira menuturkan perubahan iklim telah dilakukan menyebabkan daerah yang tersebut terdampak salinitas semakin meluas akibat kenaikan muka air laut imbas pemanasan global.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang dimaksud memiliki garis pantai yang tersebut cukup panjang dan juga sebagian besar lahan pantai itu digunakan untuk produksi padi.
Oleh dikarenakan itu, penelitian tentang lahan sawah yang digunakan terdampak salinitas sangat penting untuk memetakan penyusutan maupun peningkatan produksi pangan skala nasional.
Peneliti Agrikultur BRIN Renie Oelviani mengatakan lahan sawah terdampak salinitas juga tiada bisa saja ditanami antara 10-60 persen di tempat Kecamatan Brangsong, Kendal, Patebon, dan juga Cepiring di area Kabupaten Kendal.
Adapun sebanyak 80 sampai 90 persen dari luas lahan dalam Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, tak mampu ditanami akibat terpapar salinitas tinggi.
“Perkebunan melati yang menjadi komoditas kemungkinan terbesar kabupaten itu meninggal 100 persen. Jadi, sudah tak ada perkebunan melati dan juga tambak hanya saja tersisa 25 persen,” kata Renie.
Lebih lanjut dia mengungkapkan kerentanan lain juga terlihat dari kondisi lingkungan. Air masuk ke permukiman penduduk 10 sampai 30 persen, kualitas air yang mana buruk, kemudian tak bisa jadi untuk kebutuhan keluarga sebab terasa asin kalau diminum.
Petani merespon perubahan iklim yang digunakan terjadi dengan melakukan adaptasi baik on-farm maupun off-farm. Petani dengan kapasitas tinggi merekan bisa saja melakukan pompanisasi sepanjang musim, tetapi petani dengan kapasitas rendah dia belaka berharap bisa jadi panen sekalipun seringkali gagal.
“Mereka yang tidak ada punya lahan sawah menjadi buruh serabutan, buruh tani, buruh nelayan, dan juga ngobor (mencari ikan) untuk kelangsungan hidup,” kata Renie.
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan juga berita pilihan dari Tempo.co dalam kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.
You may also like
Pos-pos Terbaru
- Saus Kacang Enak tapi Sate Masih Hambar? Cek Bumbu Sebelum Dipanggang!
- Daftar Ide Wedding Wishes, Simple tapi Berkesan
- Roadmap Implementasi Warehouse Management System: 5 Fase dan Titik Gagal yang Sering Diabaikan
- Penyebab Tarikan Gas Motor Ngempos dan Cara Mengatasinya
- Panduan Praktis Pemda: Membangun Rumah Sakit dan Akses Air Bersih di Tengah Keterbatasan Dana Fiskal
Tinggalkan Balasan