Sains Ungkap Alasan Politikus Suka Bohong tapi Tetap Dicoblos
admin September 1, 2023 ArticlePara pakar mengungkap kebohongan menurunkan tingkat kepercayaan para pendukung meskipun tak menyebabkan kehilangan . Orang memang semata-mata percaya pada apa yang digunakan ingin dipercayainya…
Sejak Kamis (19/10) hingga Rabu (25/10), Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka masa pendaftaran pasangan calon presiden-calon perwakilan presiden untuk Pilpres 2025.
Pada momen yang dimaksud hal tersebut sama, hari ini, Joko Widodo berulang tahun yang digunakan hal itu kesembilan di tempat dalam kursi Presiden RI dalam dua periode kepemimpinannya.
Para ilmuwan pun mewanti-wanti persoalan fenomena gap antara janji politikus lalu realisasinya. Eit tenang. Ini bukan dalam Indonesia, tapi pada area AS, negara yang digunakan digunakan kerap menjadikan demokrasi sebagai alasan invasi.
Tim Cek Fakta The Washington Post, misalnya, menemukan Presiden Donald Trump, yang dimaksud digunakan menang pada Pilpres AS 2016, melakukan 30.573 kebohongan selama masa kepresidenannya, dengan rata-rata sekitar 21 klaim yang digunakan mana salah per hari.
Sebagai catatan, dia memproduksi 492 klaim yang mana mencurigakan dalam 100 hari pertama masa kepresidenan, dan membuat 503 klaim palsu khusus pada 2 November 2020, sehari sebelum pencoblosan Pilpres AS 2020, dalam upayanya memenangkan kembali pemilu.
Studi Ipsos Global Trustworthiness Monitor 2023 pun mengungkap pemerintah menjadi sektor yang mana paling tidaklah dipercaya (45 persen), sementara farmasi jadi yang tersebut yang paling tinggi dalam hal indeks kepercayaan (34 persen).
Bagian keseharian
Profesor Psikologi Kognitif Ullrich Ecker serta Postdoctoral research associate Toby Prike dari The University of Western Australia menjelaskan alasan kebohongan merupakan bagian dari keseharian manusia, tak cuma politikus.
Studi dalam Massachusetts Institute of Technology (MIT), misalnya, mengungkap rata-rata seseorang berbohong sebanyak dua kali dalam satu hari.
“Hal ini bukannya tanpa keuntungan. Faktanya, orang yang terlalu jujur dapat jadi sekadar mendapati dirinya berada dalam situasi yang digunakan dimaksud canggung secara sosial,” ungkap Ecker dan Prike, dalam tulisan keduanya dalam dalam The Conversation.
Menurut mereka, sebagian besar kebohongan sebenarnya tidak berbahaya serta berfungsi semata-mata untuk menghindari ketidaknyamanan, membantu orang menciptakan kesan yang mana yang disebut baik, atau memproduksi orang lain merasa senang.
“Namun kebohongan tentu sekadar sanggup cuma menjadi lebih lanjut besar jahat. Misalnya, saya dapat menyesatkan Anda agar Anda melakukan apa yang digunakan mana saya ingin Anda lakukan,” tukas keduanya.
Bohong semacam ini dapat menimbulkan konsekuensi negatif; orang yang dimaksud dibohongi merasa tertipu saat kebohongannya terungkap.
“Namun, beberapa penelitian menyatakan kebohongan semacam ini telah lama lama membantu manusia mengembangkan kemampuan untuk bekerja sama,” kata Ecker juga Prike.
Kebohongan itu Candu Buat Politikus
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
You may also like
Pos-pos Terbaru
- Prospek Usaha Cuci Mobil Hidrolik di Medan dan Estimasi Modal yang Dibutuhkan
- Apa Saja yang Biasanya Dicek Saat Servis Motor?
- Pentingnya Jasa Anti Rayap untuk Menjaga Ketahanan Rumah
- Tips Membeli Vario 160 Bekas agar Tetap Untung dan Nyaman Dipakai
- Tools SEO untuk Konversi Bisnis: Dari Traffic ke Pelanggan Nyata
Tinggalkan Balasan